Tuesday, July 10, 2012

GELAP DAN TERANG

Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan, di bawah sinar temaram dari lantera yang bergantungan di dahan pepohonan. Mereka hanya dapat melihat masing-masing akibat kegelapan yang pekat dan cahaya yang terlalu remang. Keduanya begitu berbeda, namun ada satu hal yang membuat mereka sama. 

Si pria tampak gusar. Kalung yang memeluk lehernya digenggam erat-erat, menunjukkan urat yang tadinya tersembunyi di balik kulit tangannya. Balutannya membuat sebagian dari dirinya terlihat seakan-akan telah termakan oleh kegelapan. 

Si gadis berusaha tenang, setenang rimbunan daun yang dibuai angin sepoi dari timur hutan. Kalungnya turut terayun, seakan-akan tak mau menghiraukan gelap yang menguasai tempat itu. Balutannya memantulkan cahaya remang lentera pohon dengan lembut. 

Mata mereka bertemu, dan masing-masing dari mereka tahu bahwa mereka belum lupa akan apa yang pernah terjadi. Yang pernah terjadi dulu...

Gadis itu masih belia dan polos. Dunia di sekitarnya adalah dunia yang sejahtera, dunia yang tersembunyi dan terlupakan oleh realita. Dengan hati yang tenang, dipanjatnya gunung itu, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa ia telah keluar dari dunianya yang terperangkap oleh kedamaian.

Matanya tertuju pada sebuah pondok yang berdiri di puncak gunung. Pondok itu tunggal, namun berpenghuni. Keingintahuan si gadis mendorongnya untuk mengetuk pintu pondok itu, hingga membuatnya terbuka secara perlahan seraya menghasilkan bunyi derik kecil. 

Pintu yang kian terbuka mulai menunjukkan isi pondok itu sedikit demi sedikit. Di balik tembok kayu tua, terdapat sebuah keluarga yang sepertinya telah dianggap hilang oleh kehidupan nyata. Mereka semua membalutkan diri dengan hitam, termasuk seorang pria muda yang berdiri persis di depan si gadis.

Senyum dibalas oleh senyum, sampai si pria melihat sesuatu yang begitu familiar melekat pada leher gadis itu. Ya, kalungnya. Kalung yang begitu sederhana, namun sama persis dengan kalung yang digunakan oleh si pria. Dengan sigap, digenggamnya tangan gadis itu. Sang gadis terkejut dan mengelak sebelum dirinya ditarik masuk ke dalam pondok, namun pada awalnya ia tak tahu bahwa sikapnya barusan dapat merubah raut wajah pria itu dengan drastis. Dengan segera ia diselimuti amarah dan rasa frustasi, dan gadis yang malang itu ia kejar hingga ke kaki gunung. Amukan si pria membuatnya terlihat sebagai si buas yang tak lagi dapat mengendalikan diri. Begitu dekat dirinya dengan si gadis, akan tetapi si gadis beruntung; kesigapannya membuatnya mampu menyelamatkan diri dan bersembunyi dalam lalu-lalang tahun yang membuatnya kian dewasa. Si pria tak menemukannya dan ia semakin gusar; ia masih terperangkap dalam balutan hitam dan dunianya yang begitu terpencil. 

Si gadis masih bersembunyi, si pria tak lagi mencari. Namun hatu nurani si gadis dirasuki rasa bersalah, dan si pria masih dikuasai kegusaran. Ingin sekali ia bersatu dengan gadis itu, gadis yang sebetulnya setara dengannya, namun hidup sebagai lawannya. 

Setelah bertahun-tahun, si gadis keluar dari persembunyiannya. Dipanjatnya kembali gunung itu, dan ditemukannya kembali pondok yang dulu pernah mengancamnya. Keluarga itu masih disana bersama si pria, bersama dengan hitam yang membalut masing-masing penghuni pondok. 

Kembali si gadis mengetuk pintu itu, dan ditariknya tangan si pria dengan segera. Si pria berusaha melawan, akan tetapi respon si gadis sama cepatnya dengan perlawanan yang ia lakukan. Hal yang sama pernah terjadi bertahun-tahun yang lalu, dan ini membuat mereka sadar bahwa ternyata mereka setara. 

Ketika sang surya telah bersembunyi di balik gunung yang dengan megahnya menutupi sebagian dari langit senja, mereka tiba di suatu tempat yang sama-sama jauh dari pondok ataupun dunia si gadis yang damai. Tempat itu dipenuhi pepohonan; masing-masing dengan satu lentera yang digantungkan di dahan yang paling kokoh. Mereka berdiri berhadap-hadapan dan pandang mereka bertemu. Kalung mereka yang persis sama masih melilit di leher masing-masing. 

Bibir si pria bergetar, mengeluarkan semua keluh kesah dan beban yang telah lama ia tanggung. Masih berat rasanya membiarkan gadis itu pergi tanpa mengajarinya jejak si pria sejak awal. Barangkali, mereka bisa bersatu dalam balutan hitam. Barangkali, mereka akan menjadi kokoh dan bahagia jika demikian. Tapi si gadis masih menggunakan balutan terang, kontras dengan pilihan si pria. 

Sang gadis berdiri diam, membiarkan sang pria memuntahkan kata demi kata dan alasan demi alasan. Jangkrik-jangkrik penghuni dedaunan coklat di atas tanah menyanyikan detik kian detik yang telah lewat. Sudah ratusan kali mereka berseru di dalam kegelapan, namun si gadis masih terdiam dengan sabar. 

Baru ketika sang pria mengatup bibirnya dan kawanan jangkrik berhenti bernyayi, sang gadis mengulurkan tangannya. Matanya membalas tatapan sang pria yang tajam dengan lembut, selembut busa-busa ombak di pinggir pantai. Ia menunggu sang pria untuk memilih. Sang pria yang masih bingung mengunyah waktu untuk memutuskan. 

Jauh di dalam hati nuraninya, sang pria tahu bahwa ia lelah berlari. Ia lelah dengan kegusaran yang selama ini menjadi bayangan atas dirinya. Ia lelah dengan balutan hitam yang menyelimutinya. 

Diraihnya tangan gadis itu dengan pelan. Semakin dekat jemarinya yang kuat dengan jemari mungil si gadis, semakin terang nyala lentera-lentera yang bergantungan di hutan itu. Barulah ketika ia berhasil menggenggam tangan si gadis, ia sadar bahwa ternyata kegelapan yang tadinya membatasi pandangannya hanyalah bagian dari ilusi. Balutan hitam yang tadinya melekat pada diri si pria terjatuh ke atas tanah secara perlahan dan akhirnya lenyap ditelan tumpukan daun kuning-kecoklatan. Bersama-sama, si gadis dan si pria melangkah keluar, ke arah terbitnya matahari. 

No comments:

Post a Comment