Wednesday, June 24, 2015

.


Is it okay to talk about things
that are not okay?
Would the world give me ears
and reveal my hidden tears?

Behind this appearance
lies a rotten heart full of dirt
You can hear it beating
but I know that it's dying

Tuesday, June 9, 2015

GETTING OUT OF THE HOLE

I wasn't being opened to people because one of the things that I fear most is judgement. I was so afraid that people would think I'm an attention seeker or some sort and think that I'm crazy. But on the other hand, I'm completely aware of my situation and I know that I really should seek for help. It was consuming me, and years ago I almost put an end my own life. Even though I feel much better now, in some days it would visit me and try to bury me with dark thoughts. 

Depression is an illness, it can be fatal and people who suffer with it needs to find a way to cure themselves. Some people seek help from religion or another way of God, some seek professional help, and some from their closest friends. I eventually found a personal way to help myself, but sometimes I feel like I'm being a burden to people around me. And I was afraid that they did not hear my cry for help or worse, they don't really care. Some people I know think that I was just being lazy for laying on the bed and sleep all day (liteally) but the truth is, my heart was heavy. But even to this day, I survive, and I will always do. I don't want to let my loved ones down. 

As a survivor, I want you to please, help a friend or a family member you knew suffering from depression before it's too late.

Below is an artwork I made myself, after suffering from suicidal thoughts. I don't usually have a dark idea and concept on my artwork, so I think this is a valid proof of what I've been through. 



Sunday, June 7, 2015

RAPUH



Barangkali, salah satu cara untuk menjadi kuat adalah menyadari bahwa manusia memiliki hak untuk menjadi rapuh. Sadarilah bahwa badai pun dapat meruntuhkan pohon dari tanah tempat ia berpijak, dan ombak dapat mengguncang dan mengikis permukaan batu karang hingga serpihannya menjadi satu dengan pasir. Manusia diciptakan untuk tertawa dan juga menangis. Manusia juga diciptakan untuk bernyanyi dan berteriak. Manusia layak merasa sedih dan layak berduka, juga layak tergoyahkan oleh percobaan dalam hidupnya. Bukankah itu hal-hal yang membuat kita manusia? Pernahkah kamu sadar, bahwa air mata membuatmu bersyukur atas pengalamanmu disakiti dan dicintai? Apakah kebahagiaan tetap sama apabila manusia tidak diciptakan untuk menangis?

Menangislah. Basahi matamu bila kamu merasa dunia tidak peduli atas penderitaan dan sengsara yang tiada akhir. Ketika deritamu keluar bersama dengan tiap tetesan air mata, barulah kamu sadar bahwa dunia tidak berakhir, dan waktu memberikan kesempatan bagimu untuk kembali menjalani hidup dengan harapan baru. 

Sunday, May 24, 2015

AKHIR UNTUK YANG LAMA DAN PERMULAAN UNTUK YANG BARU

Beberapa menit lagi, angka 1 pada umurku akan tergantikan oleh angka 2 secara permanen. Seraya menunggu detik-detik terakhirku menjadi perempuan berusia 19 tahun, aku merenungkan apa saya yang terjadi sepanjang tahun. Aku tak bisa memilih antara pengayaan neurosains dengan bioteknologi. Aku baru saja bertengkar hebat dengan seseorang yang dulu kuanggap sahabat (masalahnya sangat fatal dan rumit, sehingga kami tidak mungkin bisa berteman kembali). IPku mencapai titik kritis. Namun di sisi lain, akhirnya aku berteman dengan sesama 'psychic' dan banyak berdiskusi dengan mereka, aku semakin akrab dengan orangtuaku, dan tahun ini semangatku untuk bekerja keras kembali membara. Aku sedang belajar menerima dan merelakan keadaan-keadaan baik dan buruk yang terjadi selama aku berusia 19 tahun.

Selain itu, aku tidak bisa berhenti berpikir mengenai tanggung jawab dan nasib-nasib yang akan kuhadapi nantinya. Siapa tahu, 5 tahun kemudian aku akan menikah, dan 2 tahun berikutnya dikaruniai anak. Dan 5 tahun tidaklah lama, sekarang saja aku masih tidak percaya bahwa 5 tahun yang lalu aku meninggalkan kota masa kecilku yang sangat kucintai. Untuk mencapai cia-cita, aku tidak bisa lagi bermain-main dengan waktu. Waktu terus berjalan dan usia terus bertambah. Keduanya tidak bisa dihentikan atau bahkan dikembalikan. 

Namun, renungan ini juga menghasilkan pemikiran-pemikiran yang menyenangkan. Ada banyak kesempatan emas yang bisa diraih. Barangkali nantinya aku dianggap cukup dewasa oleh orangtuaku sehingga mereka mengizinkan aku menjelajahi berbagai negara. Barangkali menikah dan memiliki anak bukanlah hal yang menakutkan, siapa yang tidak mau hidup didampingi oleh seseorang yang sangat dicintai? Tidakkah mengasuh, mengeksplorasi dunia dari sudut pandang anak kecil, dan menurunkan pesan-pesan hidup itu menyenangkan?

Di usiaku yang ke 20, tentu saja aku berharap yang terbaik untuk usiaku yang berikutnya. Aku berdoa agar apapun ilmu yang kugarapi nantinya, dapat berguna di masa yang akan datang. Aku berdoa agar pertengkaran yang terjadi dapat membantuku memilih teman yang lebih baik dan terpercaya. Aku berdoa agar aku semakin haus akan ilmu dan giat belajar sehingga IP akan terbantu dengan sendirinya. 

Tuesday, May 19, 2015

PENCERAHAN

Memang betul kata guruku dan Kak Ed, kemanapun kami pergi, pasti kami selalu menemui orang-orang yang satu pemikiran dan satu pengalaman. Setelah melepaskan masa SMA untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, aku berjuang untuk dapat berbaur dalam lingkungan yang sungguh baru. Di satu sisi, usaha itu berjalan dengan lancar dan akhirnya aku dikelilingi oleh teman-teman yang hebat dan seru, namun di sisi lainnya, karunia yang diturunkan oleh kakek terhadapku mulai terkubur secara perlahan-lahan. Kondisi ini membuatku cukup menderita secara mental dan spiritual, karena pohon yang konon berdiri teguh telah kehilangan fondasinya. Namun ketika aku sedang melalui masa-masa itu, aku ditemukan dengan beberapa kenalan (sebut saja Stella dan Markus) yang ingin mengajakku berkaya bersama. Sambil menyusun rencana, perlahan aku sadar bahwa kami sama-sama dikaruniai bakat tersebut, namun kami tidak pernah ingin menunjukkannya di hadapan publik (kami tidak ingin dilabel gila). Mulai dari situ, kami tenggelam dalam pembicaraan di antara kami, menceritakan pengalaman-pengalaman aneh yang mungkin terdengar mistis bagi orang lain. Tapi pada kenyataannya, itulah yang kami alami. Sejujurnya kami memiliki kerinduan yang dalam untuk menceritakan berbagai pengalaman kami kepada orang lain, namun kami sadar bahwa tidak semua orang bisa memahami apa yang terjadi. Akhirnya, aku menceritakan bagaimana guruku menunjukkan masa laluku di zaman Mataram Kuno dan bahkan Perang Dunia II. Markus menceritakan bagaimana dia bisa 'membaca' orang lain, dan Stella menceritakan pengalaman near death experience juga bagaimana dia berinteraksi dengan makhluk halus di masa kecilnya. Kemudian kita berdiskusi mengenai evolusi dunia dari perspektif spiritual (dari perang antar perang yang tidak menyelesaikan masalah, era damai para hippies yang sedikit menenangkan dunia namun berantakan karena tidak memiliki landasan hukum, dan dunia saat ini yang mulai memilah dan memperbaiki sistem hukum juga beradaptasi dengan teknologi), dan mengapa dunia butuh menyeimbangkan sains dengan spiritualitas. Kami sama-sama sadar bahwa dunia bukan milik manusia belaka, namun di tanah yang sama namun dimensinya berbeda, terdapat juga penghuni lain yang ingin "rumahnya" dihargai dan diakui. Namun kebanyakan kasus yang terjadi adalah, kita para manusia tidak menyadari kehadiran mereka dan kita berlagak tidak sopan terhadap 'yang lebih tua'. Maka dari itu, tak heran apabila terdapat banyak kejadian-kejadian aneh dan mistis di daerah tertentu. Mereka memang ingin mengusir manusia dari daerah yang mereka tinggali sejak lama. Oleh karena itu, penting sekali menyediakan sepetak tanah yang tidak digusur sama sekali di tiap daerah agar setidaknya bagian dari rumah mereka masih tersedia untuk mereka tempati. Aku dan Stella berasal dari daerah yang sama, dan kami merasakan sendiri perbedaan makhluk-makhluk tersebut di daerah kami dengan daerah kota. Karena alam di daerah kami hanya sedikit yang tersentuh, penghuni lamanya masih memiliki hak untuk hidup dengan nyaman, namun beda ceritanya di daerah kota. Begitu banyak topik terpendam yang kami keluarkan bersama, hingga perjalanan waktu tidak kami perhatikan sama sekali. 

Intinya, pertemuan kami membuat bakat masing-masing yang terpendam menjadi terbuka dengan sendirinya, dan lucunya, sebelum berkumpul seperti ini kami sudah sadar bahwa semua anggota perbincangan tadi memilki jiwa yang tua, dalam arti sudah mengalami segala kekacauan dan kesejahteraan yang terjadi di bumi dan alam sekitarnya berkali-kali. Pengalaman inilah yang membuat kami dikaruniai bakat seperti itu, juga kami memiliki ambisi untuk setidaknya memperbaiki beberapa bagian dari dunia ini. Dan terbukti pula pesan dari guruku dan Kak Ed, bahwa kemanapun aku pergi, aku pasti menemui orang-orang yang serupa dan sepemahaman. Di penghujung hari, aku memberi pesan terhadap diri sendiri bahwa aku tidak perlu khawatir dan merasa kesepian, karena jiwa dari orang-orang seperti aku akan selalu saling menemukan satu sama lain. Atas alasan itu, hari ini aku merasa sangat senang dan nyaman :)

Sunday, March 29, 2015

THE ART OF EXPRESSING THOUGHTS AND FEELINGS

Sorry that I've abandoned this blog over a period of time. Not that I don't want to write anymore, I really do but I have no idea what to write, or rather, how to express my thoughts in the simplest words possible. Lately I've found comfort in expressing my thoughts in a form of art, usually a drawing followed by a short prose. It's more challenging to me that way because to make things seem artistic, I cannot be too literal; I have to put metaphors and the drawing has to support both the metaphors and the actual meaning of what I'm trying to express. But that's what I like to do. 




Another reason for this brand new 'hobby' is because I don't like to express my feelings directly. While I do love to share thoughts with people, I'm not very comfortable with doing a 'heart-to-heart' talk (or 'curhat'), not even to my best of friends. Not that I don't trust them, I have hard times explaining how an event would make me feel because the feelings are pretty complex (considering that I'm a very empathic person) and many times I've been misunderstood. So I thought illustrating these feelings into something easier to understand might help, and hey, it does help. Also, by expressing my inner thoughts this way, I make people think and observe too, I stimulate their minds to think deeply and analyze my drawings and proses, connect them with current issues we have in our world. 


I'm considering a career in illustration (probably between science and philosophy/slice of life) due to this. I'm not gonna call myself an artist just yet because I still have much to learn and I haven't yet maximize my talent. But I do know that my passions are drawing and writing. I draw, therefore I am. 

Tuesday, November 25, 2014

SINGING IN THE RAIN



I stepped out from the bus. It was raining heavily and I left my umbrella at home, so I had to rush myself to the security post, which was only 10 m ahead of me. However, I still couldn't make it back home to my boarding house, so I had to stay in the security post for a while. I made a small talk with the kind and friendly securities, they talked about their villages, their families, and how I lost so much weight since the first time we met. Minutes passed by, and I noticed that the rain has calmed down but not so much. I figured it was the best time for me to rush into my boarding house, but as I stepped my feet outside the rain got heavy again (with thunderstorms as a bonus). There were plenty of moments where the rain calmed down, but some time later it turned itself into a terrible storm. And it did that whenever I decided to rush myself back home. 

I sat there wondering why I had to experience this kind of bad luck, but then I remember how much my younger self loves the heavy rain... Back in my hometown, we were told by our parents to carry an umbrella with us all the time, because it rains everyday in Tembagapura and the rain would make us ill. Yes, we did carry have an umbrella in our backpack, but we seldom even use it. When it rains, we let every drop of it touches our face. We got back home soaking wet, and took a nice warm bath right after and a cup of homemade hot chocolate. It was a very pleasant experience. And quite surprisingly, none of us got sick after all. 

I tucked my shoes in my bag and let the rain hit me. I felt a strange comfort whenever a drop of the rain hit my face or my clothes, whenever my bare feet touches the moist ground and the puddles. I enjoyed the cold weather and how quiet the neighborhood was since everyone was hiding inside their houses. Some passerby with an umbrella starred at me feeling sorry, little do they know I actually feel sorry for them because they did not enjoy the lovely rain.

Sometimes we have to stop being so protective to ourselves by putting away our shield (the umbrella) just to see what we define as 'bad' isn't always bad. The bad weather can be a wonderful thing, once you decided to see it from a different perspective.