Saturday, September 28, 2013

WOMEN ARE NOTHING BUT SEX OBJECT?

Seeing and listening to a music video that involves nude women, I learn that it was actually made to degrade females. For some people they were just expressing fun and ‘playful’ atmosphere of the song. On the other hand, I see it as nothing more but sexual harassment. This is proved by the singer’s statement that "What a pleasure it is to degrade a woman". (It makes me wonder what his mother and grandmother would say.)

This video, however, is just a small case compared to what is happening to our sisters in some regions of the Middle East and everywhere else. Their rights to speak up are taken, and they have to obey traditions that would bring their fate to nonstop abuses from a very young age.

I always hate the idea that women are nothing but sex objects. I also grew up embracing some memories related to this. I get to see people treating women as if they are a disgrace to these people’s lives. We can all see that this idea is spreading all over the society. Everyday there are rapes and sexual harassments, literally everywhere.

Seeing from realistic perspective, I have very little power to prevent more sexual assaults. But I know there’s always a way. After learning this the hard way, my dream become a successful female scientist grows stronger than ever.

What does becoming a successful female scientist has anything to do with preventing sexual assaults? By being a successful scientist, I can show the world that women are more than just sex objects. Their forces are essential to balance our life in society, and they also have the power to make a difference. They can contribute in building welfare and bringing justice to all human beings. 


And when they follow their true dreams, The Universe dances with them in grace.

Sunday, September 15, 2013

SAJAK UNTUK SEORANG SAHABAT LAMA


Aksara menjadi wakil dari coretan di cakrawala hampa perantara jarak kita. Dengan linangan air mata dan tawa, kububuh rangkaian warna pada tiap goresan yang menyiratkan kisah demi kisah. Ini, kupersembahkan kenangan kita pada tiap helai kuasku. Aku tak mau berjumpa dengan lupa. 

Saturday, September 7, 2013

CALON PEMIMPIN BANGSA DAN PELINDUNG BANGSA

Hai, blogku yang tercinta! Lama tak bersua, karena memang minggu lalu kami disibukan dengan kegiatan-kegiatan kampus yaitu Ospek. Sebenarnya ada beberapa kisah menarik yang saya petik dari pengalaman sekali seumur hidup ini... Tapi untuk sekarang, mungkin kisah yang ini dulu yang saya prioritaskan. Mengapa? Karena pengalaman itu telah membuka wawasan saya yang ternyata... masih dangkal. 

Berhubung kami adalah angkatan pertama, rektor universitas kami mengundang marinir untuk membina kami selama Ospek. Walaupun para admin telah meyakinkan kami berkali-kali bahwa tidak akan ada kekerasan fisik selama Ospek, sebenarnya saya tetap merasa khawatir. Saya punya kenangan yang tidak menyenangkan tentang TNI, dan secara tidak langsung, kenangan ini membuat saya membangun prasangka buruk terhadap mereka. 

Singkat cerita, kompi kami kebagian marinir yang galak. Selama kegiatan Ospek, kami disengat oleh sinar matahari yang tak kenal ampun, disuruh tiarap di atas aspal yang masih becek karena hujan malam, kami harus menerima bentakan demi bentakan dan sindiran demi sindiran, dan kami harus mematuhi berbagai peraturan dan 'ritual', seberapa anehnya peraturan itu. Hari demi hari rasa kurang suka saya terhadap mereka makin menguat, apalagi ketika saya dibentak oleh seorang pelatih secara pribadi, dua hari berturut-turut. Puncak rasa tidak suka saya muncul pada saat kompi kami harus tiarap di depan kompi-kompi lain karena alasan yang tidak saya ketahui, dengan baju formal. Karena saya memiliki pride yang tinggi, saya tidak pernah suka dipermalukan di depan orang lain.  

Tibalah hari kelima, kuliah perdana. Dengan rasa kantuk yang sangat amat dan suasana pagi buta yang masih gelap, kami pun berangkat. Saat tiba pun baru secercah cahaya matahari yang muncul. Kami berbaris di lapangan sambil menunggu izin untuk masuk ke gedung. Karena masih lama, kami diperbolehkan untuk bersantai-santai dan seorang marinir yang juga seorang pelatih dari pleton kami menyempatkan diri untuk turut berbincang-bincang. Hati saya yang sempat mengeras akhirnya melunak sedikit demi sedikit, dan atas rasa bosan akibat terlalu lama menunggu, saya membangun keberanian untuk menanyakan beberapa hal sepele kepada pelatih. 

Ini dia puncak dari pengalaman saya bersama para marinir. Saat pulang, ternyata pelatih tadilah yang ikut pulang bersama bus milik pleton kami. Beliau bercerita bahwa dirinya harus berangkat tengah malam menuju kampus kami dari Cilandak. Saat pulang pun beliau bersama rekan-rekannya harus berhadapan dengan macet yang tipikal, sehingga mereka akan tiba tengah malam. Ternyata rasa lelah kami tak sebanding!

Lalu, ketika salah seorang dari kami bertanya kepada beliau mengenai pilihannya untuk menjadi marinir (meskipun dibayar dengan upah yang menurut kami tak sebanding), beliau menjawab dengan sederhana:

"Kalau semua orang berpikiran seperti kamu, siapa yang melindungi negara?"

Dari situlah saya sadar bahwa tidak semua TNI itu bersikap seenaknya. Saya membuka diri dan menceritakan kenangan saya tentang TNI yang kurang menyenangkan, di daerah yang saya rasa tak perlu saya sebutkan, seraya mengajukan harapan bahwa suatu saat nanti Pelatih bisa memperbaiki sikap mereka terhadap masyarakat. Beliau tersenyum, dan berkata:

"Saya harus bertugas di daerah lain. Mungkin suatu saat nanti, sebagai pemimpin bangsa, kamu yang bisa membina mereka."

Di tengah perjalanan, beliau menyampaikan pesan dan nasihatnya kepada kami, calon pemimpin bangsa, dan di antara nasihat-nasihat itu, saya merasa tergugah oleh pesan beliau yang satu ini:

"Saat ini kalian yang patuh dan hormat kepada saya, pelatih kalian. Tapi suatu saat nanti, sayalah yang patuh dan hormat kepada kalian."

Siap, Pelatih!

Saturday, August 24, 2013

ANOTHER GEMINI POST

Hi!

I just found out that all of these awesome people are Geminians like myself.

1. Morgan Freeman


2. Clint Eastwood



3. Marilyn Monroe



4. Judy Garland



5. Soekarno



6. John F. Kennedy



7. Sherina Munaf



8. Johnny Depp



9. Tupac Shakur



10. Paul McCartney



11. Neil Patrick Harris



12. Angelina Jolie 



13. Natalie Portman


Now that I know, I feel awesome as well.

And someday I'll be as awesome as them.

But like what my friend said, today is not that day!

*goes back to sleep*

Wednesday, August 21, 2013

NGAMPUS

Hai. Hari ini juga gue udah mulai menetap di kost. Yap, sekarang gue sudah resmi menjadi anak kuliahan. 

Sebenernya kuliah belom mulai, gue baru menjalankan program matrikulasi matematika karena gue tidak pintar dalam bidang matematika sementara mapel ini bakal jadi santapan gue sehari-hari. Program ini berlangsung selama 2 minggu lebih, dan karena bokap nyokap banyak kerjaan dan ga bisa nganterin terus setiap hari, dan gue capek bangun pagi2 buta biar ga kena macet di jalan, terpaksa gue harus mencari tempat kost. Kami mengunjungi tiap tempat yang ada di kota ini, sampe akhirnya ketemulah kamar kost yang paling tempat. Lokasinya deket, jalan 20 menit nyampe deh di kampus. Walopun gue kurang suka sama ibu kostnya, yang penting fasilitas lengkap dan lokasinya pas. Lucunya, gue satu tempat kostan sama temen SMA karena kita satu kampus, dan dulu sepanjang masa SMA gue selalu sekelas sama dia. Di sini kamarnya lebih luas karena emang lebih mahalan dikit, tapi bawaannya cuma satu koper isi baju dan beberapa sepatu. Sementara itu, kamar gue lebih kecil, tapi gue bawa 3 kotak barang plus beberapa kantong stok makanan kayak orang imigran *lebay*. Ya pokoknya begitulah. 

Nah, sekarang ngomongin tentang suasana kuliahnya. Gue punya beberapa temen dari SMA yang masuk di kampus yang sama dan sama-sama kena program matrikulasi. Dua di antaranya satu kelas sama gue. Jadi deh pas hari pertama kita nempel di barisan depan sepanjang kelas. Nah, pas hari pertama gue sempet heran karena suasana kelas rame banget, diramaikan oleh beberapa manusia. Gue kira mereka satu sekolah karena rame sendiri, tapi waktu itu gue belom kenalan sama mereka jadi gue ga tau mereka ini sebenernya dari mana aja. Sampe pada hari ke dua, barulah gue mulai berniat untuk kenalan. Ternyata anak-anak di kelas gue ramah banget, welcome kepada siapa pun, murah senyum dan tidak sombong. Dan ternyata, geng anak2 yang bikin kelas jadi rame ini gak satu sekolah! Jadi mereka baru kenal satu sama lain pada saat itu juga. Salut! Gue yang biasanya jaim dan menutup diri sama orang-orang baru pun jadi berusaha untuk lebih membuka diri di masa kuliah ini dan menerima siapa pun sebagai teman. Gotta love my class!

Kelas matematika berlangsung selama 4 jam tiap harinya, termasuk Sabtu. BAYANGKAN!! Dicekokin 2-3 bab tiap harinya, di kasih soal-soal, pantat berasa panas karena kelamaan duduk, dan tentunya ada test di tiap akhir minggu! Untungnya kelas gue kebagian dosen yang baik dan pengertian. Beliau baru pindah dari Jepang tahun lalu, dan karena beliau lama di sana, bahasa Indonesianya dalam ajar-mengajar masih sedikit terbata-bata. 

Oh iya, kayaknya ini bakal menjadi theme songs gue untuk beberapa waktu ke depan:





Saturday, August 10, 2013

STRUGGLING.

I finally have something to say here but I was afraid if it sounds too somber. Oh well, my blog anyway. 

The hardest thing about being strong and looking all fine is, everyone thinks you can deal with everything without any problems. Besides, a shell is strong on the outside, but it is hiding the soft and vulnerable part. 

Does it matter if people know what you're going through? I think sometimes it does. After all, we are social beings, aren't we? We were meant to live together in the first place. We can't survive by ourselves. 

Even the wisest and strongest man needs help from the people to share his wisdoms. Without these people, how can he be wise, and why should he be wise? 

My point is, everyone, no matter how  strong they are, needs help.

I myself need help, and I found hope among the people. 

Wednesday, August 7, 2013

THE USE OF ARTS

One reason why I haven't write anything for the past few weeks in here is because I suck at writing now, as you can see. While I have so many things going on inside of my head and I found no way of expressing it directly and verbally, I seemed to lose my poetic sense and drawing skill too, until I bought a new drawing pen (don't worry I'm not going to lead you to a drawing pen ad) and told myself to sketch or write anything on my sketchbook intuitively. 

Though I am not the best artist, I'm always grateful for my skills. Now I know why God has given me the natural ability to draw and also, strong intuition. 

This might not be a perfect sketch, after all I am still an amateur, but I'm very happy with it. Sorry if it creeps you out :P


I'll get back to writing as soon as I get my skill and will back. I'm thinking about combining my story/poem with personal illustrations, though I already made one for summer holiday project. It was really fun, requires a lot of patience, too. 

Cheers!